Rabu, 01 Mei 2013

Sinopsis gue ?


 “Sebelas Patriot”

 Ikal yang berasal dari sebuah pulau kecil di bagian selatan Pulau Sumatera, Belitong. Pulau yang sekitar 5 tahun lalu mungkin belum pernah terdengar namanya, namun saat ini menjadi salah satu tujuan wisata “terpanas” di Republik ini berkat tetralogi “Laskar Pelangi” oleh penulis yang sama. Ikal sebelum akhirnya rasa cinta yang berbuah keinginan besar untuk menjadi pemain PSSI itu kandas dan hal inilah yang membuatnya “ke lain hati” menjadi mencintai bulutangkis.Ternyata kecintaannya terhadap sepakbola ini bukan tanpa sebab. Berawal dari sebuah foto yang terlarang baginya untuk dilihat, apalagi ditanya, Ikal secara tidak sengaja, atau lebih tepatnya sembunyi-sembunyi, menemukan sejarah bahwa ayahnya yang amat sangat dicintai dan dikaguminya itu pernah menjadi salah seorang pahlawan sepakbola di kampungnya ketika jaman penjajahan Belanda, yang membuat ayahnya tersebut harus mengalami kehancuran tempurung lutut kiri akibat siksaan Belanda yang tidak senang kesebelasan kumpeni dikalahkan kesebelasan jajahan dengan gol semata wayang ayahnya ini.
Mengetahui begitu besar peran ayahnya pada masa itu, Ikal bertekad untuk meneruskan jejak ayahnya sebagai pahlawan sepakbola, dan dengan semangat yang membuncah-buncah, berkali-kali mencoba menjadi pemain sepakbola junior PSSI, namun selalu gagal. Rasa sedih, kecewa, dan merasa bersalah pada ayahnya, sangat memukul jiwa Ikal. Namun kata-kata motivasi dari ayahnya membuatnya kembali bangkit, “Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya.” Sungguh kalimat motivasi terhebat yang pernah keluar dari seorang ayah yang sangat pendiam dan bahkan tak pandai baca tulis itu.
Menyadari ketidakmungkinannya menjadi pemain sepakbola, membuat Ikal puas sekedar menjadi pendukung sepakbola terutama PSSI dengan menyebut dirinya dan para pendukung PSSI sebagai Patriot PSSI. Atas kecintaan yang besar terhadap sepakbola pada umumnya, dan terhadap ayahnya pada khususnya itu pulalah yang membuat Ikal dengan penuh perjuangan mendapatkan baju seragam sepakbola milik Luis Figo – langsung dari markas Real Madrid di Santiago Bernabeu di Kota Madrid, Spanyol, dan lengkap dengan tanda tangan asli Figo – dengan bekerja serabutan siang malam seperti yang biasa dilakoni seorang backpacker, agar uangnya mencukupi harga kaos itu sejumlah dua ratus lima puluh euro. Dan dia berhasil mendapatkannya, tentu saja. Bahkan setelah itu dia berhasil juga menonton pertanding antara Real Madrid vs Valencia, langsung dari tribun di stadion Santiago Bernabeu.






ini dia hasil sinopsis gue dari novel karya "Andre Hirata", see you next time~

0 komentar:

Posting Komentar