“Sebelas Patriot”
Ikal yang
berasal dari sebuah pulau kecil di bagian selatan Pulau Sumatera, Belitong.
Pulau yang sekitar 5 tahun lalu mungkin belum pernah terdengar namanya, namun
saat ini menjadi salah satu tujuan wisata “terpanas” di Republik ini berkat
tetralogi “Laskar Pelangi” oleh penulis yang sama. Ikal sebelum akhirnya rasa
cinta yang berbuah keinginan besar untuk menjadi pemain PSSI itu kandas dan hal
inilah yang membuatnya “ke lain hati” menjadi mencintai bulutangkis.Ternyata
kecintaannya terhadap sepakbola ini bukan tanpa sebab. Berawal dari sebuah foto
yang terlarang baginya untuk dilihat, apalagi ditanya, Ikal secara tidak
sengaja, atau lebih tepatnya sembunyi-sembunyi, menemukan sejarah bahwa ayahnya
yang amat sangat dicintai dan dikaguminya itu pernah menjadi salah seorang
pahlawan sepakbola di kampungnya ketika jaman penjajahan Belanda, yang membuat
ayahnya tersebut harus mengalami kehancuran tempurung lutut kiri akibat siksaan
Belanda yang tidak senang kesebelasan kumpeni dikalahkan kesebelasan
jajahan dengan gol semata wayang ayahnya ini.
Mengetahui begitu besar peran
ayahnya pada masa itu, Ikal bertekad untuk meneruskan jejak ayahnya sebagai
pahlawan sepakbola, dan dengan semangat yang membuncah-buncah, berkali-kali
mencoba menjadi pemain sepakbola junior PSSI, namun selalu gagal. Rasa sedih,
kecewa, dan merasa bersalah pada ayahnya, sangat memukul jiwa Ikal. Namun
kata-kata motivasi dari ayahnya membuatnya kembali bangkit, “Prestasi tertinggi
seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya.” Sungguh kalimat motivasi
terhebat yang pernah keluar dari seorang ayah yang sangat pendiam dan bahkan
tak pandai baca tulis itu.
Menyadari ketidakmungkinannya
menjadi pemain sepakbola, membuat Ikal puas sekedar menjadi pendukung sepakbola
terutama PSSI dengan menyebut dirinya dan para pendukung PSSI sebagai Patriot
PSSI. Atas kecintaan yang besar terhadap sepakbola pada umumnya, dan terhadap
ayahnya pada khususnya itu pulalah yang membuat Ikal dengan penuh perjuangan
mendapatkan baju seragam sepakbola milik Luis Figo – langsung dari markas Real
Madrid di Santiago Bernabeu di Kota Madrid, Spanyol, dan lengkap dengan tanda
tangan asli Figo – dengan bekerja serabutan siang malam seperti yang biasa
dilakoni seorang backpacker, agar uangnya mencukupi harga kaos itu
sejumlah dua ratus lima puluh euro. Dan dia berhasil mendapatkannya, tentu
saja. Bahkan setelah itu dia berhasil juga menonton pertanding antara Real
Madrid vs Valencia, langsung dari tribun di stadion Santiago Bernabeu.
ini dia hasil sinopsis gue dari novel karya "Andre Hirata", see you next time~
ini dia hasil sinopsis gue dari novel karya "Andre Hirata", see you next time~












0 komentar:
Posting Komentar