Terdapat
berbagai dampak yang ditimbulkan akibat bullying. Dampak yang dialami
korban bullying tersebut bukan hanya dampak fisik tapi juga dampak
psikis. Bahkan dalam kasus-kasus yang ekstrim seperti insiden yang
terjadi, dampak fisik ini bisa mengakibatkan kematian.
Hilda,
et al (2006; dalam Anesty, 2009) menjelaskan bullying tidak hanya
berdampak terhadap korban, tapi juga terhadap pelaku, individu yang
menyaksikan dan iklim sosial yang pada akhirnya akan berdampak terhadap
reputasi suatu komunitas. Terdapat banyak bukti tentang efek-efek
negatif jangka panjang dari tindak bullying pada para korban dan
pelakunya. Pelibatan dalam bullying sekolah secara empiris
teridentifikasi sebagai sebuah faktor yang berkontribusi pada penolakan
teman sebaya, perilaku menyimpang, kenalakan remaja, kriminalitas,
gangguan psikologis, kekerasan lebih lanjut di sekolah, depresi, dan
ideasi bunuh diri. Efek-efek ini telah ditemukan berlanjut pada masa
dewasa baik untuk pelaku maupun korbannya (Marsh dalam Sanders 2003).
Bullying juga berpengaruh pada sekolah dan masyarakat. Sekolah tempat bullying terjadi seringkali dicirikan dengan:
- Para siswa yang merasa tidak aman di sekolah
- Rasa tidak memiliki dan ketidakadaan hubungan dengan masyarakat sekolah
- Ketidakpercayaan di antara para siswa
- Pembentukan gang formal dan informal sebagai alat untuk menghasut tindakan bullying atau melindungi kelompok dari tindak bullying
- Tindakan hukum yang diambil menentang sekolah yang dilakukan oleh siswa dan orang tua siswa
- Turunnya reputasi sekolah di masyarakat
- Rendahnya semangat juang staf dan meningginya stress pekerjaan
- Iklim pendidikan yang buruk Marsh dalam Sanders (2003; dalam Anesty, 2009).
Dampak bagi korban
Hasil
studi yang dilakukan National Youth Violence Prevention Resource
Center Sanders (2003; dalam Anesty, 2009) menunjukkan bahwa bullying
dapat membuat remaja merasa cemas dan ketakutan, mempengaruhi
konsentrasi belajar di sekolah dan menuntun mereka untuk menghindari
sekolah. Bila bullying berlanjut dalam jangka waktu yang lama, dapat
mempengaruhi self-esteem siswa, meningkatkan isolasi sosial, memunculkan
perilaku menarik diri, menjadikan remaja rentan terhadap stress dan
depreasi, serta rasa tidak aman. Dalam kasus yang lebih ekstrim,
bullying dapat mengakibatkan remaja berbuat nekat, bahkan bisa membunuh
atau melakukan bunuh diri (commited suicide).
Coloroso
(2006) mengemukakan bahayanya jika bullying menimpa korban secara
berulang-ulang. Konsekuensi bullying bagi para korban, yaitu korban akan
merasa depresi dan marah, Ia marah terhadap dirinya sendiri, terhadap
pelaku bullying, terhadap orang-orang di sekitarnya dan terhadap orang
dewasa yang tidak dapat atau tidak mau menolongnya. Hal tersebut kemudan
mulai mempengaruhi prestasi akademiknya. Berhubung tidak mampu lagi
muncul dengan cara-cara yang konstruktif untuk mengontrol hidupnya, ia
mungkin akan mundur lebih jauh lagi ke dalam pengasingan.
Terkait
dengan konsekuensi bullying, penelitian Banks (1993, dalam Northwest
Regional Educational Laboratory, 2001; dan dalam Anesty, 2009)
menunjukkan bahwa perilaku bullying berkontribusi terhadap rendahnya
tingkat kehadiran, rendahnya prestasi akademik siswa, rendahnya
self-esteem, tingginya depresi, tingginya kenakalan remaja dan kejahatan
orang dewasa. Dampak negatif bullying juga tampak pada penurunan skor
tes kecerdasan (IQ) dan kemampuan analisis siswa. Berbagai penelitian
juga menunjukkan hubungan antara bullying dengan meningkatnya depresi
dan agresi.
Dampak bagi pelaku
Sanders
(2003; dalam Anesty, 2009) National Youth Violence Prevention
mengemukakan bahwa pada umumnya, para pelaku ini memiliki rasa percaya
diri yang tinggi dengan harga diri yang tinggi pula, cenderung bersifat
agresif dengan perilaku yang pro terhadap kekerasan, tipikal orang
berwatak keras, mudah marah dan impulsif, toleransi yang rendah terhadap
frustasi. Para pelaku bullying ini memiliki kebutuhan kuat untuk
mendominasi orang lain dan kurang berempati terhadap targetnya. Apa yang
diungkapkan tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Coloroso
(2006:72) mengungkapkan bahwa siswa akan terperangkap dalam peran pelaku
bullying, tidak dapat mengembangkan hubungan yang sehat, kurang cakap
untuk memandang dari perspektif lain, tidak memiliki empati, serta
menganggap bahwa dirinya kuat dan disukai sehingga dapat mempengaruhi
pola hubungan sosialnya di masa yang akan datang.
Dengan
melakukan bullying, pelaku akan beranggapan bahwa mereka memiliki
kekuasaan terhadap keadaan. Jika dibiarkan terus-menerus tanpa
intervensi, perilaku bullying ini dapat menyebabkan terbentuknya
perilaku lain berupa kekerasan terhadap anak dan perilaku kriminal
lainnya.
Dampak bagi siswa lain yang menyaksikan bullying (bystanders)
Jika
bullying dibiarkan tanpa tindak lanjut, maka para siswa lain yang
menjadi penonton dapat berasumsi bahwa bullying adalah perilaku yang
diterima secara sosial. Dalam kondisi ini, beberapa siswa mungkin akan
bergabung dengan penindas karena takut menjadi sasaran berikutnya dan
beberapa lainnya mungkin hanya akan diam saja tanpa melakukan apapun dan
yang paling parah mereka merasa tidak perlu menghentikannya.
Selain
dampak-dampak bullying yang telah dipaparkan di atas, penelitian-
penelitian yang dilakukan baik di dalam maupun luar negeri menunjukkan
bahwa bullying mengakibatkan dampak-dampak negatif sebagai berikut:
- Gangguan psikologis, misalnya rasa cemas berlebihan, kesepian (Rigby K. 2003).
- Konsep diri sosial korban bullying menjadi lebih negatif karena korbam merasa tidak diterima oleh teman-temannya, selain itu dirinya juga mempunyai pengalaman gagal yang terus-menerus dalam membina pertemanan, yaitu di bully oleh teman dekatnya sendiri (Ratna Djuwita, dkk , 2005).
- Korban bullying merasakan stress, depresi, benci terhadap pelaku, dendam, ingin keluar sekolah, merana, malu, tertekan, terancam, bahkan ada yang menyilet-nyilet tangannya (Ratna Djuwita, dkk , 2005).
- Membenci lingkungan sosialnya, enggan ke sekolah (Forero et all.1999).
- Keinginan untuk bunuh diri (Kaltiala-Heino, 1999).
- Kesulitan konsentrasi; rasa takut berkepanjangan dan depresi (Bond, 2001).
- Cenderung kurang empatik dan mengarah ke psikotis (Banks R., 1993).
- Pelaku bullying yang kronis akan membawa perilaku itu sampai dewasa, akan berpengaruh negatif pada kemampuan mereka untuk membangun dan memelihara hubungan baik dengan orang lain.
- Korban akan merasa rendah diri, tidak berharga (Rigby, K, 1999).
- Gangguan pada kesehatan fisik: sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk- batuk, gatal-gatal, sakit dada, bibir pecah-pecah (Rigby, K, 2003).
Bullying
bukanlah aktivitas normal pada anak-anak yang akan berlalu dengan
sendirinya seiring mereka dewasa. Perilaku bullying yang tidak ditangani
dengan baik pada masa anak-anak justru dapat menyebabkan gangguan
perilaku yang lebih serius di masa remaja dan dewasa, seperti: pelecehan
seksual, kenakalan remaja, keterlibatan dalam geng kriminal, kekerasan
terhadap pacar/teman kencan, pelecehan atau bullying ditempat kerja,
kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan/kekerasan terhadap anak,
kekerasan terhadap orang tua sendiri.
Berdasarkan
pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku bullying dapat
berdampak terhadap fisik maupun psikis pada korban, Dampak fisik seperti
sakit kepala, sakit dada, cedera pada tubuh bahkan dapat sampai
menimbulkan kematian. Sedangkan dampak psikis seperti rendah diri, sulit
berkonsentrasi sehingga berpengaruh pada penurunan nilai akademik,
trauma, sulit bersosialisasi, hingga depresi.












0 komentar:
Posting Komentar